Tonton Bukunya, Baca Filmnya

“Eh, si Oka Antara keren banget ya. Cowok banget pokoknya. Gue banget gitu lho…he-he-he..”

Cuplikan pembicaraan itu terdengar dari kerumunan perempuan yang merasa terpuaskan setelah nonton film Sang Penari, film yang diadaptasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Yang dimaksud Oka Antara adalah salah satu aktor yang memerankan tokoh Rasus: figur sentral –selain Srinthil- dalam novel dan film itu.

Banyak orang bilang, Oka luar biasa di film itu. Seperti diakuinya sendiri, butuh 2 tahun untuk benar-benar meresapi peran Rasus. Ia juga benar-benar diet ketat demi mendapatkan tampilan fisik ala Rasus yang diprofilkan sebagai pemuda desa yang kurus karena miskin dan bodoh. Bahkan seusai berakting di film ini, Oka mengaku menolak semua tawaran peran untuk film lainnya. “Sepanjang karir akting, output peran ini yang saya rasa paling maksimal. Karenanya saya butuh waktu jeda untuk refleksi dan evaluasi diri,” kata Oka dalam sebuah wawancara di televisi.

Iseng saya bertanya ke mereka, apakah para dara itu pernah membaca novelnya? Seperti saya duga, mereka tidak pernah membacanya. Pantas saja mereka cukup puas dengan performa Rasus dalam diri Oka. Sebab bagi saya, meski mengaku sudah berakting habis-habisan tetap saja Rasus yang dipersonifikasikan Oka tidak seperti yang saya bayangkan saat Ahmad Tohari mendeskripsikan setiap lekuk gerak Rasus dalam novelnya. Dengan demikian, berbeda dengan cewek-cewek tadi, bagi saya Oka tidak cukup bagus untuk menjadi Rasus.

Memang masih diperdebatkan asumsi ini. Toh ini perihal selera. Tapi bagi saya bukan itu pokok perdebatannya. Ada sebuah pola yang bisa dibaca setiap kali suatu karya novel, komik, cerpen atau apapun itu ketika karya tersebut diadopsi oleh satu jenis industri seni yang lain (dalam hal ini film). Untuk menyebut beberapa, sebelumnya ada Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Ayat-ayat Cinta, Di Bawah Naungan Ka’bah, atau kalau di luar negeri ada kisah komik Tin-Tin yang masuk layar lebar. Sedangkan untuk proyeksi ke depan ada megaproyek filmisasi novel Bumi Manusia. Dalam proses alih-tampilan karya-karya yang saya sebut tadi selalu menimbulkan debat yang tidak sederhana. Mesti ada pro-kontra yang sengit antara pihak yang merasa puas dan tidak puas dengan alih-tampilan karya itu.

Ada satu perpektif klasik dalam perdebatan sosiologi kritik yang berkutat pada ranah seni dan budaya. Raymond Williams dan Walter Benjamin dari Birmingham Centre yang sebelumnya diawali Theodoro W. Adorno dari “padepokan” Mahzab Frankfurt pernah membuat satu analisis tentang tercerabutnya aura karya seni karena terlampau sering direproduksi dalam skala yang masif atau bahkan dimasukkan dalam skema industrialisasi budaya.

Dalam batasan yang agak longgar, teori itu kompatibel digunakan untuk membaca fenomena film yang diadaptasi dari novel-novel populer dan legendaris itu. Logikanya begini. Sebagai karya seni yang dipublikasikan, novel memang bukan produk yang ekslusif karena novel juga dicetak massal. Meski begitu, tidak semua orang langsung cocok dan menambatkan hatinya pada novel-novel tersebut. Sebab tidak mudah membaca dan memahami ratusan halaman dalam novel itu. Apalagi kultur membaca (literasi) masyarakat kita terkenal masih rendah. Sehingga tidak semua orang bisa tertaut dengan sebuah karya sastra yang bernama novel.

Namun saat novel itu kemudian diangkat ke layar lebar yang otomatis juga memindah media literasi menjadi media visual, tiba-tiba banyak orang merasa tertaut dengan film itu. Padahal ada reduksi dan pemampatan jalan cerita: dari awalnya beratus-ratus halaman menjadi sekian jam durasi penayangan. Belum lagi jika dalam proses pemindahan teks novel ke dalam script skenario terjadi bias interptretatif.

Di sinilah yang saya maksud sesungguhnya telah terjadi pencerabutan aura seni dan kedalaman makna seperti kata teoritikus tadi. Maka tidak salah jika Ahmad Tohari hanya berujar singkat terhadap film Sang Penari. “Ya, paling tidak ini menjadi dokumentasi visual dari Ronggeng Dukuh Paruk. Meski saya merasa penggambaran suasana desa dalam film itu terlalu hijau untuk Dukuh Paruk,” kata Tohari (Kompas, 13/11/2011). Tohari yang dalam novelnya menggambarkan Dukuh Paruh sebagai wilayah yang gersang, tandus merasa pilihan lokasi syuting film itu kurang mewakili imajinasi Dukuh Paruk yang diinginkannya.

Di sisi lain, banyak penikmat karya itu yang “melompat”. Maksudnya, tanpa membaca versi literalnya, langsung saja mengunyah versi digital-visualnya. Fenomena semacam itu tidak bisa semata-mata dibaca sebagai faktor selera (pilihan antara membaca/menonton), tapi sudah menyangkut karakter dan ukuran tingkat berbudaya/berperadaban sebuah bangsa. Indonesia merupakan bangsa yang mengidap sindrom cultural shock karena lompatan budaya yang tanpa arah: belum berkembang penuh budaya baca-tulis, sudah datang teknologi informasi baru yang lebih menggoda.

Sven Birkerts dalam buku The Gutenberg Elegies, The Fate of Reading in an Electronic Age (1994) menyodorkan tiga hal yang perlu dicermati dari efek lompatan kelisanan primer (budaya tutur) ke kelisanan sekunder (audio-visual), tanpa melewati terlebih dulu fase sejarah berkembangnya budaya baca-tulis.

Pertama, erosi bahasa. Kompleksitas ekspresi tertulis dan lisan, yang terikat erat dengan tradisi cetak, akan tergantikan oleh, dalam istilah Bikerts, a more telegraphic sort of “plainspeak”. Bahasa akan terasa lebih sederhana. Sementara ambiguitas, paradoks, ironi, mupun kesubtilan yang biasa menyertai sebuah bahasa menjadi musnah. Kedua, mendangkalnya perspektif kesejarahan. Berubahnya cara kita menyampaikan dan menyimpan informasi berhubungan dengan ingatan sejarah kita. Contoh, dengan melihat buku di perpustakaan, kita dapat membentuk gambaran berlalunya waktu seiring dengan bertambahnya buku di perpustakaan itu. Tetapi kesegeraan yang direpresentasikan oleh budaya audio-visual akan menggantikan itu.

Ketiga, lunturnya diri yang privat. Proses membaca adalah proses yang privat, ruang hening di mana pembaca memperoleh suaka dari hiruk-pikuk dunia sekelilingnya. Kendali pembacaan-waktu, imaji, impresi, sepenuhnya di tangan pembaca. Sebaliknya dari tatanan elektronik ketika “pembaca” menyerahkan kendali itu kepada media, ruang pribadi makin menyempit.

Tiga efek ala Bikerts inilah yang sepertinya sedang menjangkiti bangsa kita. Dalam hal berbahasa, misalnya, Indonesia termasuk dalam catatan Summer Institute of linguistics (SIL) tahun 2009 sebagai negara dengan potensi besar kehilangan bahasa ibu. Di Sumatera dari 52 bahasa pada tahun 2000, kini hanya tinggal 49 bahasa. Di Papua dari 271 bahasa, dua diantaranya sudah menjadi bahasa kedua. Di Maluku, dari 132 bahasa, hanya 129 yang aktif dituturkan dan tiga bahasa lainnya hilang bersama penggunanya.

Lantas dalam wilayah penghayatan sejarah, bangsa kita sampai disebut mengidap amnesia sejarah. Pasalnya kita senantiasa mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu dan selalu berputar pada spiral yang sama. Sampai-sampai kita seperti keledai yang bodoh dan enggan belajar dari pengalaman. Kemudian yang ketiga, rakyat Indonesia sepertinya kehilangan ruang dalam lubuknya untuk berkontemplasi. Sisi hening dalam batin setiap individu seolah terdesak oleh hingar bingar modernitas. Akibatnya dalam kehidupan bermasyarakat, kita mengidap gejala gagal sosial, karena seringkali bertingkah bengis, anti-sosial atau bahkan anarkhis.

*Artikel ini dimuat di KORAN TEMPO, 04 Maret 2012 

https://koran.tempo.co/read/266755/tonton-bukunya-baca-filmnya

Tinggalkan Balasan