Tan Malaka dalam Absennya Negara

Sabtu, 23 April kemarin, Wapres Boediono meluangkan waktunya untuk menonton opera Tan Malaka di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sebuah dramaturgi teater epik tentang Tan Malaka tanpa peran tokoh Tan Malaka.

Opera itu kian menegaskan kalau Tan Malaka memang sebuah enigma. Bahkan sastrawan besar macam Goenawan Mohamad pun “tak berani” menembus selubung misteri itu. Karenanya naskah opera itu tak menjelaskan apa dan siapa Ibrahim Datuk Tan Malaka (nama lengkapnya), atau Ilyas Husein, atau Tan Ho Seng (beberapa nama samarannya). Yang tersaji adalah adegan-adegan di arena, tak saling terkait membentuk cerita. Hanya sugesti-sugesti dan suasana lewat sejumlah unsur pentas opera: musik, liberto, cahaya, properti.

Namun kehadiran seorang Wapres dalam pagelaran opera tentang tokoh besar yang masih misterius itu menghadirkan pertanyaan sekaligus harapan. Akankah pemerintah kali ini tidak lagi absen untuk menghormati pahlawan bangsa?

***

Tan Malaka, tak diragukan lagi adalah anak bangsa yang cemerlang, pemberani dan sangat kontributif terhadap pencapaian kemerdekaan Indonesia. Majalah Tempo edisi kemerdekaan (Agustus 2008) menceritakan pengalaman Sukarni (tokoh pemuda yang berperan dalam “penculikan” Soekarno ke Rengasdengklok) yang suatu kali di bulan Agustus 1945, merasa terheran-heran dengan penuturan seorang berpenampilan layaknya “gembel” tapi fasih bercerita soal revolusi dan kemerdekaan. Oleh orang yang mengaku sebagai Ilyas Husein itu, Sukarni seperti dikuliahi buku Massa Actie (karya Tan Malaka yang terbit tahun 1926).

Buku Massa Actie, diakui terus terang oleh tokoh pergerakan dan bapak bangsa lainnya, menjadi inspirasi utama bagi mereka untuk meneguhkan idealismenya dalam mengusir penjajah. Bahkan bagi Soekarno, buku itu adalah ilham sekaligus bahan kutipan untuk menyusun Indonesia Menggugat: pledoinya yang akhirnya sangat tersohor itu. Tak ketinggalan, frasa “Indonesia tanah tumpah darahku” dalam lagu Indonesia Raya diakui oleh W.R Supratman diambil dari bagian akhir buku Massa Actie.

Baru di kemudian hari Sukarni menyadari, orang yang diajaknya bicara itu tak lain adalah Tan Malaka yang sedang menyamar. Tan Malaka sengaja menyembunyikan diri agar tak disergap agen-agen interpol atas manuvernya yang sejak Januari 1923 menjadi pengawas Komintern (komunis internasional) untuk wilayah Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, Vietnam, dan Burma (Asia Tenggara).

Bahkan Soekarno juga beberapa kali minta diketemukan –lewat perantara Sukarni- dengan Tan Malaka secara rahasia. Konon Soekarno ingin mengajak sharing penulis buku Madilog dan Dari Penjara Ke Penjara itu tentang gagasannya mengenai konsep revolusi dan negara Republik Indonesia.

Maklum, Tan Malaka adalah orang pertama yang menggulirkan gagasan secara tertulis tentang konsep negara-bangsa bernama Republik Indonesia. Suatu hari di tahun 1925, saat berada di Tiongkok, Tan Malaka menulis buku kecil yang berjudul Naar de Republiek (Menuju Republik Indonesia). Gagasan itu jauh lebih dulu daripada pemikiran serupa yang dituliskan Mohammad Hatta dalam Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka): pledoinya di depan Pengadilan Belanda di Den Haag tahun 1928. Sedangkan Soekarno baru menulis Menuju Indonesia Merdeka tahun 1933.

Atas segala kiprahnya itu, seorang Sejarawan asal Belanda, Harry Albert Poeze, rela menghabiskan 36 tahun hanya untuk meneliti dan menulis buku setebal 2.200 halaman yang berjudul, Vurguisd en Vergeten, Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie (Tan Malaka, Dihujat, dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia).

Menurut Harry, perjalanan hidup Tan Malaka memang penuh teka-teki. Meski Tan Malaka adalah pioner yang memekikkan berdirinya sebuah negara Kesatuan Republik bagi tanah Hindia-Belanda, tapi dia malah alpa dari upacara pembacaan naskah proklamasi. Waktu itu Tan Malaka telat mengetahui info akan adanya proklamasi sehingga 17 Agustus 1945 dirinya ada di luar Batavia. ”Ketidakhadiranya saat proklamasi, adalah salah satu penyesalan terburuk Tan Malaka sepanjang hidupnya,” kata Harry dalam bukunya.

Nah, karena tidak mau lagi kecolongan, Tan Malaka akhirnya mendekat ke pusat simpul-simpul pergerakan. Akhirnya Dia berhasil memimpin sebuah gerakan monumental: menyatukan rakyat untuk menghadiri rapat akbar di lapangan Ikada 19 September 1945. Bagi Tan Malaka, rapat akbar itu adalah, “uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan.”

Tapi rupanya takdir seperti menggariskan Tan Malaka tetap menjadi sebuah enigma dalam sejarah Republik Indonesia. Walau banyak berjasa, Tan Malaka terkena imbas konflik elite antara Soekarno-Hatta-Sjahrir. Akibatnya dia –yang sudah terasing— makin terasing dan tewas secara misterius (dalam versi Harry Poeze) di tangan Tentara Republik Indonesia pada 21 Februari 1949 di Dusun Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Mungkin karena punya kesan mendalam, 14 tahun setelah kematiannya, tirai misteri Tan Malaka coba sedikit dikuak oleh Soekarno. Pada 28 Maret 1963, Presiden Soekarno resmi mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun selubung misteri itu tertutup kembali hingga puluhan tahun setelah Orde Baru berkuasa.

Jangankan rehabilitasi sejarah dan pemugaran makamnya, nama Tan Malaka malah dihapus total dari historiografi Indonesia. Karena itu, jangan pernah tanyakan siapa itu Tan Malaka pada siswa SD maupun Sekolah Menengah (SMP-SMA). Sebab nama itu tak sekalipun tertulis dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah.

***

Nah, setelah enam dekade lebih “ditelantarkan,” Harry Poeze datang dengan segepok data dan fakta bahwa makam Tan Malaka memang ada di Kediri. Bahkan setelah makamnya dipugar 12 November 2009 dan dilakukan tes forensik oleh dokter spesialis forensik Djaja Surya Atmadja dan Evi Untoro serta dokter gigi Nurtamy Soedarsono (ahli odontologi forensik) telah membuktikan kecocokan kerangka jenazah itu dengan Tan Malaka dalam hal jenis kelamin (laki-laki), ras (Mongoloid), tinggi badan (163-165 cm), dan lengan tersilang ke belakang (menurut keterangan, Tan Malaka ditembak dalam keadaan tangan terikat ke belakang).

Bagi Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, kasus Tan Malaka ini nyaris serupa dengan pahlawan nasional lainnya, yakni pemimpin PETA, Supriyadi dan Oto Iskandar di Nata. Saat tes forensik untuk jasad Supriyadi tahun 1975, hasilnya tidak cocok dengan ciri-ciri yang disampaikan keluarga. Tapi toh, pemerintah tetap menganugerahi Supriyadi sebagai pahlawan nasional. Sedangkan untuk Oto, Pemerintah gagal mendapatkan lokasi pasti di mana Oto dimakamkan. Yang ada cuma indikasi bahwa Oto dibunuh oleh gerombolan penjajah di Pantai Mauk, Tangerang. Untuk itu pemerintah lalu mengambil  pasir di sekitar pantai lalu membungkusnya dengan kain kafan dan dimakamkan secara simbolis di taman makam pahlawan. Artinya, keotentikan jenazah Tan Malaka lebih akurat.

Akhirnya, seperti kata Goenawan Mohamad, ”sejarah membutuhkan nama,” yang, ”hatinya tak boleh diikat oleh anak istri, keluarga serta handai taulan.” Maka sejarah Tan Malaka juga butuh diberi tanda. Karena tidakkah Tan Malaka hampir hanya memberi tanpa meminta, apalagi menyejarah?

Nah, semoga kehadiran Boediono dalam pementasan opera Tan Malaka menjadi titik awal itikad pemerintah untuk segera menamai sejarah itu. Jika tidak, niscaya bangsa ini tetap menjadi bangsa yang kerdil. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.

 

*Artikel ini dimuat di harian KOMPAS, 21 Februari 2012

Tinggalkan Balasan