Tan Malaka, Aslia dan Komunitas ASEAN

Setiap ada diskursus baru dalam jagad wacana di negeri kita, niscaya selalu diikuti hadirnya buku-buku dengan tema serupa. Bukan fenomena yang aneh, sesungguhnya. Inilah aksioma. Dalam perspektif ekonomi-bisnis, misalnya, dalil aksiomatik yang berlaku adalah: ada permintaan, ada penawaran. Salah satu contoh dari aksioma di atas adalah menguatnya isu tentang Komunitas ASEAN di tahun 2015 dan terbitnya beragam buku yang menyertainya.

Komunitas ASEAN digagas dengan tujuan supaya ASEAN memiliki institusi supranasional sehingga hubungan antara negara anggota tidak sebatas pada institusi formal gabungan antara beberapa negara, melainkan bisa terintegrasi dalam sistem aturan yang terpusat dalam pemerintah regional atau institusi supranasional. Gagasan itu merujuk pada masyarakat Uni Eropa. Argumennya, hadirnya globalisasi berimplikasi pada meningkatnya eskalasi persaingan ekonomi-politik yang mengharuskan suatu negara berkelompok untuk memperkuat kembali regionalismenya agar tetap survive.

Seiring meluasnya diseminasi ide tentang Komunitas ASEAN, saat itu pula buku-buku mengenai komunitas ASEAN bermunculan. Sekedar contoh, beberapa buku (dari sekian banyak buku) yang bertemakan ASEAN Community adalah, ”Think ASEAN! Rethinking Marketing toward ASEAN Community 2015” yang ditulis keroyokan oleh Philip Kotler, Den Huan Hooi, serta pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya. Berkisah tentang bagaimana pola marketing ideal untuk menyongsong Komunitas ASEAN 2015, buku ini pertama kali diterbitkan oleh McGraw-Hill Education Asia (2006).

Selanjutnya muncul buku, “ASEAN Economic Community: Content and Roadmap”, sebuah monograf yang dieditori oleh Nguyen Hong Son dan diterbitkan Social Sciences Publishing House (2009). Lalu ada juga buku bertitel, ”Constructing a Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional Order” hasil gubahan Amitav Acharya yang dipublikasikan penerbit Routledge (2009).

Tak mau kalah, para peneliti kita di LIPI juga merilis buku, “Ekonomi Politik Kemitraan ASEAN: Sebuah Potret Kerjasama.” Sebuah riset tentang ASEAN dalam perspektif ekonomi-politik yang diterbitkan Pustaka Pelajar dan P2P LIPI (2011). Sampel terakhir adalah buku, “Achieving ASEAN Economic Community 2015: Challenges for Member Countries & Businesses” diterbitkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) tahun 2012. Buku ini memberikan pandangan tentang tantangan yang dihadapi oleh anggota ASEAN menghadapi ASEAN Community 2015.

Catatan terhadap buku-buku di atas, maupun buku-buku lainnya tentang Komunitas ASEAN adalah, mayoritas buku-buku tersebut lebih berorientasi kepada isu Komunitas ASEAN yang dilihat dari forecasting (perkiraan) bisnis atau analisis ekonomi-politik internasional tanpa berpretensi mengikuti alur historis yang holistik mengenai asbabun nuzul (genealogi) ide federasi/asosiasi berbasis regionalisme tersebut. Dengan demikian bisa dianalogikan buku-buku tersebut mirip (sekali lagi, mirip, bukan sama persis) dengan gaya-gaya buku psikologi populer, di mana buku-buku tersebut hanya mengedepankan perspektif self-help, how to dan do it yourself yang menjamur seiring tumbuhnya “industri nasihat” di Indonesia. Kondisi ini memprihatinkan karena isu Komunitas ASEAN juga memerlukan tilikan historis.

Aslia Bergabung

Secara historis, bangsa ini pernah melahirkan pemikir besar yang sudah menawarkan gagasan tentang konsep konfederasi, asosiasi atau komunitas berbasis regionalisme jauh sebelum Adam Malik (Indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia), Thanat Koman (Thailand), Narsisco Ramos (Philipina), dan S. Rajaratnam (Singapura) bersepakat mendirikan Association of South East Asia Nations (ASEAN) tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok.

Sang pemikir besar itu adalah Datuk Ibrahim Tan Malaka. Jika selama ini kebanyakan kita mengenal karya besar Tan Malaka sebatas Parlemen atau Soviet (1921), SI Semarang dan Onderwijs (1921), Naar de Republiek Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Manifesto Bangkok (1927), Madilog (1943), Muslihat (1945), Thesis (1946), Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), dan Gerpolek (1948), sebenarnya Tan Malaka juga punya karya penting lain yang diberinya judul Aslia Bergabung (1943).

Tan menyebut Aslia adalah akronim dari Federasi Asia dan Australia: gabungan dari permulaan kata “Asia” dan suku kata terakhir “Australia”. Jika Plato memimpikan Atlantis sebagai acuan utopis peradaban modern, maka Tan bermimpi Aslia sebagai simbol peradaban modernnya. Karena itu Aslia sebagai bentuk postkapitalis dianggap Tan memiliki level yang lebih advance jika dibandingkan konsep “Indonesia” di zaman besi dulu. Adapun jangkauan Aslia yang dimaksud Tan meliputi Birma, Thailand, Annam, Philipina, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Sunda Kecil dan berujung pada Australia Panas. Yang dimaksud “Australia panas” adalah Australia bagian utara yang luas wilayahnya sepertiga dari keseluruhan benua Australia.

Kenapa waktu itu Tan punya visi tentang Aslia bersatu? Karena seluruh wilayah Aslia dipengaruhi iklim yang sama, yakni iklim panas, gerakan angin moeson, dan penduduknya yang berhubungan terus dari abad ke abad. “Dalam hakikatnya (mereka) beralat-perkakas, berekonomi, bersosial, berpolitik dan berjiwa (paham keamanan dan perasaan) dan berhasrat atau berimpian yang tidak berbeda satu sama lainnya,” kata Tan dalam Madilog.

Bagi Tan, jika sukses menggabungkan Aslia, niscaya Aslia akan menjadi salah satu dari delapan wilayah “gabungan raksasa” yang ada dunia, yakni Amerika Utara, Amerika Selatan, Tiongkok, Indo-Iran, Afrika, Eropa Barat, dan Soviet-Rusia.

Konsep Aslia pertama kali dikumandangkan Tan Malaka dalam magnum opus-nya, Madilog. Meskipun sebenarnya Tan sudah menyiapkan buku Aslia Bergabung (1943) untuk menjabarkan konsep Aslia itu. Sayang, naskah utuh dari buku tersebut hilang sehingga tidak sempat dipublikasikan secara massal. Bagi sejarawan Hilmar Farid (2013), gagasan tentang Aslia adalah cara Tan untuk menempatkan “unit analisis” geopolitik maupun geoekonominya di tengah dinamika perkembangan dunia waktu itu. Dengan kata lain, gagasan Aslia muncul sebagai resultante dari perkembangan ekonomi-politik internasional dekade 1940-an.

***

Oleh karena itu, jika ada yang berasumsi bahwa ide tentang Komunitas ASEAN baru lahir dari forum Bali Concord II tahun 2003, asumsi tersebut harus disanggah. Sebab sejatinya benih pendirian Komunitas ASEAN sudah ditanam dalam buku Aslia Bergabung tahun 1943. Meski tidak persis sama, namun Tan Malaka sudah punya visi bahwa Asia (setidaknya ASEAN) memang harus bersatu.

 

*Artikel ini dimuat di JAWA POS, 19 Januari 2014

Tinggalkan Balasan