Risalah Sebuah Nama

Pada 25 Oktober kemarin, berlangsung peristiwa menarik: Konperensi Asep-Asep (KAA). Yakni, pertemuan orang-orang bernama Asep yang diadakan di Bandung. Meski terkesan main-main, acara itu punya misi sangat serius: penyelamatan budaya lokal melalui revitalisasi makna Asep. Sebab Asep adalah salah satu “nomenklatur” budaya lokal yang mulai tergerus arus globalisasi (Jawa Pos, 3/11/15, hlm. 1). Terlepas dari kesan bahwa konprensi itu hanya guyonan, sukar dibantah bahwa misi tersebut memang sangat relevan. Sebab saat ini hakikat sebuah nama adalah representasi dari kompleksitas berbagai isu budaya, sosial, maupun politik

Dalam cara pandang klasik, nama adalah doa: harapan orang tua kepada anaknya. Sebagaimana doa dapat dipanjatkan dalam berbagai bahasa, sebuah nama juga dapat diambil dari beragam bahasa. Di Magelang, ada orang tua yang memberi nama anak sulungnya “Happy New Year” dengan harapan menjadi anak yang bahagia sebahagia orang-orang merayakan tahun baru. Namun karena si sulung sering bolos sekolah, maka adiknya diberi nama “Andy Go To School” dengan harapan lebih rajin sekolah. Tetapi, karena Andy agak bandel, maka si bungsu diberi nama “Rudy A Good Boy” agar tidak mengikuti jejak kebandelan kakaknya (Jawa Pos, 8/9/2015).

Dalam konteks serupa, munculnya fenomena nama “Tuhan” di berbagai tempat juga setali tiga uang. Oleh karena di daerah tempat “Tuhan-Tuhan” itu berada konstruksi bahasa ibu-nya tidak menginduk kepada bahasa Indonesia/Melayu, maka kata “Tuhan” tidak dipersepsikan sebagai “Sang Maha Pencipta” sebagaimana yang ada dalam kamus bahasa Indonesia/Melayu. Seperti diutarakan “Tuhan” dari Jember, dirinya tidak tahu kalau namanya berasosiasi dengan “Sang Pencipta,” karena di lingkungan sosialnya (yang dipengaruhi bahasa Jawa-Madura), sebutan untuk “Yang Maha Kuasa” adalah pengeran, bukan Tuhan (Jawa Pos, 9/9/15). Artinya, selama bermakna doa, orang tua dapat memilih bahasa apapun untuk dijadikan nama anak-anaknya.

Justru fenomena yang menarik terkait pilihan nama di Indonesia bukan terletak pada pilihan ragam bahasanya, melainkan pergeseran hakikat nama itu sendiri. Dari awalnya nama (berfungsi) sebagai doa, kini mulai bergeser: nama (berfungsi) sebagai instrumen sosial-politik untuk agenda-agenda dan kepentingan tertentu.

Ketika Nama Tak Hanya Doa

Dalam buku, “Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam dan Gay” (2009), Linda Christanty menceritakan satu kisah unik mengenai larangan penggunaan nama Tionghoa di era Orde Baru. Salah seorang kawan Linda yang berdarah Tionghoa di Surabaya sampai harus merubah nama Tionghoa-nya menjadi Bubar agar sesuai dengan citarasa Indonesia. Bahkan agar terlihat memiliki aksen Jawa, si “Bubar” tersebut kemudian menambahkan akhiran “no”, sehingga nama lengkapnya di KTP menjadi Bubarno. Padahal arti kata “bubarno” dalam kamus bahasa Jawa bermakna bubarkan.

Kisah lain datang dari sosok Presiden Soeharto. Di akhir tahun 1980-an, Soeharto membuat manuver politik dengan merangkul kembali kekuatan Islam setelah sebelumnya disingkirkan. Momentum ini berimbas pada terbukanya kanal aspirasi kebudayaan dan representasi identitas keislaman di ruang publik. Ketika Soeharto dan keluarga memutuskan naik haji ke Makkah dan memodifikasi namanya menjadi Haji Mohammad Soeharto (H.M Soeharto), langkah tersebut diikuti para loyalis dan birokrat yang tidak lagi segan menambahkan “H.M” di depan namanya. Mengadopsi penjelasan Murray (1991), Ariel Heryanto (2012) mendefinisikan gejala tersebut sebagai “Islamic Chic”, yakni tren menunjukkan identitas kemusliman di ruang publik.

Ketika Orba tumbang, tidak ada lagi kekuatan represif yang secara koersif dapat mendefinisikan identitas kultural masyarakat dengan semena-mena. Proses identifikasi identitas budaya menjadi lebih heterogen dan cair. Perubahan kontelasi kebudayaan tersebut juga berpengaruh kepada cara orang tua Indonesia modern dalam menamai anak-anaknya. Orang tua Jawa, Bugis, Minangkabau, Madura dan lainnya tidak lagi terpaku pada nama-nama lokal, tetapi sudah berpandangan lebih kosmopolit dan mengikuti tren. Pun demikian orang tua muslim juga tidak hanya terpaku pada gaya penamaan ala Arab yang selama ini diasosiasikan dengan Islam. Mereka banyak memadumadankan nama anak-anaknya dari berbagai unsur bahasa. Jadilah nama yang berasal dari kombinasi bahasa paling menarik adalah nama paling unik, antik dan ekslusif. Inilah alasan kenapa muncul fenomena biro jasa pencarian nama unik bagi anak-anak. Makin unik dan ekslusif, makin mahal tarif yang ditetapkan.

Kecenderungan tersebut lantas direspon secara unik pula oleh Baktiono. Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya tersebut punya ide kontroversial untuk mengusulkan Raperda tentang pemberian nama khas Surabaya. Pertimbangannya, fenomena pemberian nama anak yang kebarat-baratan atau kearab-araban adalah indikasi dari makin lunturnya penghayatan orang tua di Surabaya terhadap budaya lokal. Persoalannya, sebuah Perda punya konsekuensi hukum yang mengikat. Seandainya usulan Raperda itu disahkan, sangat mungkin terjadi kriminalisasi terhadap para orang tua di Surabaya yang gagal memberi nama “khas Surabaya” (Pramusinto, dkk, 2014).

Merujuk penjelasan Jean Baudrillard (1990), nama telah mengalami komodifikasi. Nama telah bertransformasi menjadi nilai tanda (nama sebagai identitas/tanda sosial), melampaui fungsi awalnya sebagai nilai guna (nama sebagai doa). Makin unik, makin “modern” nama seorang anak, semakin tinggi pula tanda/identitas yang yang dia dapatkan secara sosial-budaya. Entah dalam skala ukuran modern, keren, atau unik yang membuatnya berbeda dengan anak-anak lainnya.

Demikianlah, risalah sebuah nama tak lagi sekedar doa orang tua untuk anaknya, tetapi proses penandaan secara sosio-kultural terhadap identitas sosial anak. Maka, tidak salah jika di kemudian hari muncul KJJ (Konfrensi Joko-Joko) di Jawa maupun KPP (Konferensi Putu-Putu) di Bali untuk mendampingi KAA dalam merevitalisasi budaya lokal melalui nama.

*Pernah dimuat di harian KOMPAS, 28 November 2016 https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20161128/281814283470061&prev=search

 

Tinggalkan Balasan