Pemimpin dan Buku Sastra yang Mereka Baca

16 April 2007, novelis itu memulai “jihadnya”. Dengan modal buku The Death of Ivan Ilych karya Leo Tolstoy, dia percaya diri menyapa sang Perdana Menteri (PM). Secarik surat dia tulis dengan penuh dedikasi: menegakkan supremasi kekuatan literasi di tengah haru-biru dunia politik yang seringkali berjalan tanpa nurani. Dua minggu sekali selama tiga tahun penuh, tidak bosan-bosannya dia menjalankan misi suci sastrawinya.

Siapa gerangan novelis itu? Dia adalah Yann Martel, penulis novel Life of Pi. Novel yang dengan menawan diterjemahkan Ang Lee dalam layar lebar sehingga mengantarkan sutradara Taiwan itu menyabet Oscar 2013. Martel punya ikhtiar untuk mengirimkan satu judul karya sastra beserta surat pengantar –yang berisi sinopsis singkat dan relevansi argumen mengirim karya itu— kepada Stephen Harper, PM Kanada. Dengan tekun, Martel mengirimkan satu demi satu buku-buku sastra plus surat pengantarnya hingga mencapai 101 judul.

Harapannya, PM memilih judul mana saja yang disukainya, sehingga Martel bisa menganalisa imajinasi macam apa yang dihayati sang PM. Tapi sayang semua jerih payah itu sama sekali tidak terbalas kecuali respon positif dari asisten PM untuk kiriman pertamanya. “I would like to thank you for your recent letter and the copy of Tolstoy’s The Death of Ivan Ilych. We appreciated reading your comments and suggestions regarding the novel,” kata si asisten. Selebihnya, surat-surat Martel bertepuk sebelah tangan.

Namun justru karena surat-suratnya tidak berbalas, akhirnya Martel punya buku baru. Judulnya 101 Letters to a Prime Minister. Dalam buku setebal 448 halaman itu, Martel menumpahkan seluruh argumen, dasar pemikiran, keluh-kesah, bahkan amarahnya saat melaksanakan jihadnya selama tiga tahun itu. Salah satu pernyataannya, “saya mengirim 101 buku kepadanya, dan ia tidak menulis satu surat pun kepadaku.”

Dalam buku yang dirilis pertama kali Oktober 2012 itu, Martel juga menjawab pertanyaan paling mendasar yang ditanyakan banyak orang: kenapa Martel harus bersusah payah melakukan itu semua? Dalam istilah anak muda Jakarta, ngapain sih si Martel itu kepo banget dengan selera sastra sang PM? Apa gara-gara dia sastrawan kenamaan Kanada, kemudian dia sok ingin menilai selera sastra orang-orang Kanada, termasuk preferensi sastrawi sang PM.

Ternyata Martel punya jawaban brilian. Dasar pemikiran Martel begitu dalam dan filosofis, sehingga tidak hanya membungkam suara-suara sumbang yang mengkritisinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang cara untuk menilai dan mengkritisi tingkah laku para pemimpinnya.

Martel mengaku, sebenarnya ia tak mau tahu apa yang dibaca orang lain. Masalahnya menjadi lain ketika orang lain tersebut terjun ke politik dan berkuasa. “Begitu seseorang berada di puncak kekuasaan negara, termasuk berkuasa atas diri saya sebagai warga negara,” lanjut Martel, “saya berkepentingan untuk mengetahui watak dan kualitas imajinasinya, sebab mimpi-mimpinya bisa menjadi mimpi buruk bagi saya.”

Sebagai warga Kanada, Martel mengaku tergetar oleh komentar Barack Obama setelah membaca karyanya, Life of Pi. Obama menulis dengan tulisan tangan kepada Martel, “Life of Pi adalah bukti elegan keberadaan Tuhan dan kekuatan bercerita.”

Martel meyakini bahwa pemimpin dunia yang tidak membaca, atau tidak ingin mengetahui tentang kisah orang lain—artinya, pengalaman atau kehidupan yang sangat berbeda dari dirinya yang dituangkan dalam karya sastra—akan punya visi yang membutakan. Karena itu, “fiksi adalah cara terbaik untuk mengeksplorasi yang lain,” kata Martel.

Selain membaca karya Martel, Obama juga pembaca karya Mark Twain, puisi Ralph Waldo Emerson (layaknya mendiang John F Kennedy yang menghayati syair-syair Robert Frost), Cancer Ward-nya Alexander Solzhenitsyn. Dan yang menjadi favoritnya ialah karya mashur Toni Morrison, Song of Solomon. Karya yang memadukan puisi, nyanyian, dan prosa tradisional ini menjadi novel liris yang mengilhami Obama.

Beda lagi dengan Vladimir Putin. Presiden Rusia ini menyukai novel-novel Jack London, Jules Verne, serta Ernest Hemingway. Bagi Putin, karakter yang dilukiskan para sastrawan itu membentuk inner self dirinya dan membangkitkan kecintaan Putin kepada dunia luar. “Mereka karakter pemberani,” ujarnya. Sedangkan mendiang Hugo Chavez seperti ditulis Nurani Soyomukti di rubrik Di Balik Buku (JP, 17/03/2013) adalah pengagum Don Quixote, tokoh ksatria dalam novel karangan Miguel de Cervantes (1547-1616).

Jika diringkas, tesis utama Martel adalah, corak kebijakan seorang pemimpin politik diilhami oleh imajinasi politik yang dipunyai para pemimpin itu. Sedangkan konstruksi imajinasi politik itu dibangun dari kualitas imajinasi-kreatif masing-masing orang. Dan kualitas imajinasi-kreatif itu bisa dilihat dari pilihan karya sastra apa yang disukainya. Seperti dikatakan Martel, fiksi adalah cara terbaik untuk mengeksplorasi (mengetahui) karakter orang lain.

Dalam konteks ini bisa kita buktikan tokoh-tokoh politik yang mengagumi karya-karya sastra berkelas adalah para pemimpin berkualitas. Terlepas dari pro-kontra kepemimpinannya, setidaknya Kennedy, Obama, Putin atau Chavez adalah pemimpin politik yang berkarakter dan berani: profil kepemimpinan yang dirindukan bangsa ini sepuluh tahun terakhir. Harus diakui karakter dan keberanian mereka dipengaruhi kualitas imajinasi yang mereka gali dari imajinasi sastrawi yang diciptakan para sastrawan besar.

Oleh karena itu, di tengah ikhtiar bangsa ini mencari sosok pemimpin baru, apa yang dilakukan Martel menjadi relevan untuk dikontekstualisasikan. Seleksi calon suksesor SBY sepertinya tidak cukup ditelusuri dari rekam jejak politiknya, integritasnya, maupun kompetensi dan kapabilitasnya, melainkan juga kualitas imajinasinya. Cukup sudah satu dekade kita punya pemimpin yang –meskipun gemar mencipta lagu— ternyata miskin imajinasi politik. Bayangkan, ketika partainya dilanda prahara, hanya orang yang defisit imajinasinya yang rela mengorbankan diri jadi ketua umum meski dirinya Presiden. Lihat pula respon pemimpin miskin imajinasi saat digoyang pihak oposisi. Yang selalu didengungkan adalah, akan ada kudeta. Padahal demonstran hanya ingin berbagi sembako. Simak pula sikap Presiden minus imajinasi saat kewalahan menertibkan manuver Menterinya yang gemar bekerja demi partainya sendiri daripada kepentingan negeri.

Maka, yakinlah kita tidak akan lagi punya pemimpin politik yang gagap bersikap jika kita tahu dari awal, apa karya sastra yang dihayatinya.

 

*Artikel ini dimuat di JAWA POS, 12 Mei 2013

 

Tinggalkan Balasan