Komedi dalam Narasi Literasi

Hari ini, relatif tidak susah untuk tertawa. Hidupkan televisi, niscaya tidak susah menemukan program acara dengan sederet pengisi acara yang bertitel “komedian”. Segala bentuk komedi dengan berbagai variannya, baik yang benar-benar lucu maupun “sok lucu” banyak menjadi tayangan utama di televisi. Atau tinggal online via smartphone, dan membuka laman You Tube. Di situ juga tidak susah juga mengakses tayangan komedi, baik yang amatir maupun profesional.

Ringkasnya, di abad digital seperti saat ini, narasi komedi pun telah bertanda digital. Era Galajapo atau Srimulat yang berbasis aksi teaterikal di panggung seperti narasi usang. Bahkan, munculnya tren baru stand up comedy yang diimpor dari tradisi hiburan panggung broadway Amerika Serikat juga sudah bertanda digital. Sekalipun stand up comedy itu dilakukan di kafe dan ruang publik, namun akses tontonan terhadap “teater kelucuan” tersebut lebih mudah dilakukan lewat internet dan/atau televisi.

Layaknya entitas lain yang sudah bertanda digital, biasanya narasi berbasis literasi (tertulis) yang menyertai entitas tersebut akan tereduksi. Ambil contoh fenomena literasi anak-anak. Seiring dengan makin berkembangnya dunia digital (audio-visual), stok literasi anak-anak pun bergeser dalam wujud audio-visual sehingga secara gradual makin menjauhkan anak-anak dari persinggungannya dengan naskah dan aksara. Konsekuensinya, menipisnya ketersediaan ekosistem literer yang menjadi ruang belajar membaca dan menulis yang sesuai dengan umurnya, membawa dampak terhadap buruknya kualitas bacaan yang dikonsumsi anak-anak. Bahkan, di sekolah, yang merupakan episentrum berseminya nilai-nilai kebajikan, seringkali anak-anak disuguhi narasi yang menteror imajinasi kekanakannya.

Sebagai bukti, dalam laporan kongres internasional dwi-tahunan IBBY (International Board on Book for Young People) 23-26 Agustus 2012 di London, masih banyak ditemukan fakta bahwa anak-anak diposisikan sebagai objek pasif dalam buku bacaan yang dikonsumsinya. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, anak-anak hanya disuguhi bacaan yang mungkin relatif melimpah dari sisi kuantitas namun problematis dalam hal kualitas.

Namun hal serupa ternyata tidak berlaku untuk entitas komedi. Meski berbagai ragam dan varian komedi sudah bertanda digital dan mewujud dalam rupa audio-visual, ternyata ekosistem buku-buku komedi tidak berkurang. Justru muncul tren naiknya kuantitas buku-buku komedi yang beredar di pasar. Bahkan dibandingkan sebelum era reformasi, peredaran buku-buku komedi lebih melimpah.

Indikasi dari hipotesis di atas dapat disimak dalam penelusuran Seno Gumira Ajidarma di buku, “Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor” (2013). Dalam buku tersebut, Seno Gumira ingin membuktikan bahwa humor (komedi) adalah instrumen yang ampuh untuk melakukan kritik sosial. Namun yang menarik adalah, Seno Gumira lebih memilih kartun-kartun lucu di media massa yang muncul selama orde baru sebagai objek risetnya, bukan buku-buku komedi. Kenapa? Selain represifitas rezim terhadap teks-teks kritis, secara kuantitas saat itu memang kehadiran buku-buku komedi tidak terlalu menonjol secara kuantitas.

Namun fenomena berbeda terjadi di era saat ini. Sekalipun represifitas rezim telah digantikan oleh represifitas pasar yang lebih menghendaki narasi komedi ditampilkan dalam bentuk audio-visual dibanding teks literasi konvensional, namun setting ekonomi-politik semacam itu tidak mampu meruntuhkan luapan kreativitas para penulis teks komedi untuk membukukan naskah-naskah komedi karangannya. Dalam satu dasawarsa terakhir, tidak terlalu sulit menemukan penulis handal di dunia perbukuan komedi. Tentu yang dimaksud penulis di sini bukan analis dan kritikus humor seperti Seno Gumira, tapi benar-benar penulis teks humor. Bahkan seorang artis yang sering muncul di panggung komedi televisi, kebanyakan juga menjadi penulis buku komedi.

Nama Raditya Dika bisa dijadikan contoh yang representatif. Sebelum ngetop di layar kaca, nama komedian ini lebih dulu melejit lewat buku-buku humornya. Hampir satu dasawarsa sejak tahun 2005, Raditya Dika sudah menerbitkan enam buku. Masing-masing “Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005), “Cinta Brontosaurus(2006), “Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (2007), “Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang (2008), “Marmut Merah Jambu(2010) dan “Manusia Setengah Salmon (2011). Bahkan naskah komedi Raditya justru dijadikan inspirasi untuk menyusun narasi humor dalam wujud digital (film).

Setelah generasi Raditya Dika, dan mulai mencuatnya stand up comedy, beberapa comic (sebutan khas untuk para komedian di program itu), juga merilis buku komedi. Untuk menyebut beberapa judul buku humor yang dihasilkan comic dan juga penulis humor lainnya adalah, “Komedikus Erektus: Dagelan Republik Kacau Balau” (2010) karya Bambang Haryanto, “Cerita Bodor Koas Cebok”  (2013)  yang ditulis Andreas Kurniawan, “The Idiots: Kisah Tiga Mahasiswa Konyol” (2013) karangan Chetan Bhagat, “Anak Kos Dodol Konco” (2013), “Truth or Dare” (2013) karya Rons Imawan, “Wow Konyol” (2013), “Tak Kemal Maka Tak Sayang” (2013) karangan Kemal Palevi, “Pasukan Hantu Koplak: Datang Tak Dijemput, Pulang Naik Ojeg” (2013) yang dirilis Adi MT, “Motivaction” (2013) karya Iwel Sastra, dan juga “Le Me Forever Alone: Jomblo itu Bukan Status, Tapi Takdir”  (2014) karya Baro Indra.

Hal tersebut menjadi bukti. Sekalipun entitas humor sudah banyak yang terdesiminasi dengan tanda digital, namun narasi komedi dalam literasi belumlah mati.

 

*Artikel ini dimuat di JAWA POS, 31 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan