Haji Turistik

Di akhir tahun 1980-an, Presiden Soeharto mulai berpikir ulang tentang orientasi politiknya. Setelah perpecahan di internal militer kian mengemuka, Soeharto berinisiatif merangkul kembali kekuatan Islam yang sebelumnya “dibonsai” dan disingkirkannya dari panggung politik. Dikisahkan Ariel Heryanto dalam, “Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru” (2012), momentum ini berimbas pada terbukanya kanal aspirasi kebudayaan dan representasi identitas keislaman di ruang publik. Selain munculnya ICMI, dan dicabutnya larangan berjilbab bagi siswi di sekolah, bermunculan pula toko buku khusus buku-buku Islami. Inilah gejala “Islamic chic,” yaitu, menunjukkan identitas kemusliman justru menjadi tren.

Gejala Islamic chic yang populer adalah pencantuman gelar “H/Hj” di depan nama seseorang sebagai tanda telah menunaikan ibadah haji. Salah satu pemicunya adalah keputusan dari Presiden Suharto beserta keluarga untuk menunaikan ibadah haji. Sebagai “panglima besar” yang segala tindak-tanduknya harus diikuti, Suharto adalah role model bagi segenap “hamba-hamba” politik-nya di seantero Nusantara. Begitu Suharto memutuskan menjadi haji, maka banyak orang-orang penting di sekitarnya juga ingin menjadi haji. Gelar haji kemudian menjadi modal sosial-politik baru untuk eksis di arena kekuasaan yang dikendalikan klan Cendana. Sejak saat itu gejala kelas menengah yang hendak berhaji tapi tidak mau bersusah payah mulai menguat. Istilahnya, jama’ah Ongkos Naik Haji Plus (jama’ah ONH Plus).

Mendiang Moeslim Abdurraman (Kang Moeslim) kemudian menjadikan fenomena tersebut sebagai riset disertasinya di program Antropologi, University of Illinois, Urbana-Campaign Amerika Serikat. Disertasi itu lantas dibukukan dengan judul “Bersujud Di Baitullah” (2000), salah satu karya penting tentang etnografi haji. Dalam buku tersebut, termuat pandangan kritis seorang penganut paham “Islam tranformatif” saat menemani dan memandu jama’ah haji kelas menengah yang menggunakan fasilitas ONH Plus. Karena fasilitas yang diterima para jama’ah adalah service kelas wahid, Kang Moeslim menjulukinya sebagai “haji turistik”.

Terminologi “haji” dan “turis” adalah nomenklatur yang kontradiktif. Tapi bagi jama’ah haji pengguna fasilitas ONH plus, kedua terminologi itu justru menyatu. Penyebabnya, jika mayoritas jama’ah haji Indonesia harus menginap di penginapan pengap yang jauh dari Masjidil Haram, maka para pelaku haji turistik ini menikmati fasilitas hotel bintang lima yang dekat dengan Masjidil Haram. Bila sebagian besar jama’ah haji terpaksa berdesak-desakan saat menggunakan bus menuju Mina/Arafah, maka jama’ah haji turistik ini berhak menggunakan bus ber-AC plus seorang sopir profesional.

Inilah mengapa ibadah haji di Indonesia menjadi rukun Islam yang punya kompleksitas sosio-kultural. Misalnya haji adalah simbol kelas sosial: karena yang bisa berhaji dipersepsikan sebagai orang kaya. Yang sudah berhaji dianggap mengalami akselerasi kesalehan sehingga menaikkan derajat sosialnya, dan gelar “pak haji” maupun “bu haji” adalah prestise tersendiri bagi sebagian kalangan. Artinya, haji turistik adalah instrumen kelas menengah muslim dalam berkontestasi menunjukkan “kualitas” kelas sosialnya. Hal itu terlihat sejak sebelum keberangkatan, ketika di Arab Saudi, maupun pasca kepulangan mereka ke tanah air. Contoh, saat di Arab Saudi banyak diantara jama’ah itu yang tidak pernah lepas dari kamera untuk mengabadikan perjalanannya. Pun setelah pulang, mereka masih setia menjaga komunikasi antar jama’ah dengan rutin mengadakan pengajian (majelis taklim) di hotel bintang lima dan mengundang beberapa ustadz ternama. Semua berpulang pada produksi dan reproduksi elitisitas kelas sosial yang akan membedakannya dengan kelas sosial kebanyakan.

Relevansinya Kini

Riset tersebut dituntaskan Kang Moeslim tahun 1998. Setelah 16 tahun berlalu, gambaran tentang haji beserta segenap dimensi sosio-kultural yang melingkupinya belum jauh berubah. Kalaupun bergeser, justru mengarah pada kian parahnya “banalitas” pemaknaan ibadah haji.

Tidak susah mencari indikasinya. Misalnya tidak sedikit politisi dan pejabat publik yang “gemar” ke tanah suci. Entah untuk Haji atau umrah. Namun tak lama kemudian tertangkap KPK karena korupsi. Entah bagaimana kualitas kehajiannya itu. Malah, jangan-jangan mereka pergi haji dengan menggunakan uang hasil korupsi. Bahkan Kemenag pun menjadi tersangka korupsi dana haji. Begitu pula dengan kian panjangnya daftar antrian (inden) calon jama’ah haji. Padahal di saat yang sama jumlah rakyat miskin kian bertambah. Tanpa perlu berdebat panjang, sudah jelas terpampang kontradiksi dan paradoks.

Emha Ainun Nadjib (2012) dalam buku “Tuhan Pun Berpuasa” menuturkan, esensi puasa sebenarnya juga mempengaruhi esensi ibadah haji. Bagi Emha berhaji berarti juga “berpuasa” dari berbagai faktor keduniaan. Saat menghadap Baitullah, praktis kita berpuasa dari jabatan, dari kekayaan dunia, keangkuhan kelas sosial, serta dari segala macam romantisme kehidupan duniawi. Itulah kenapa ibadah haji adalah puncak “pesta pora” dan demonstrasi dari suatu sikap di mana dunia disepelekan dan ditinggalkan. “Nanti kita ketahui gerak melingkar tawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wainna ilaihi raji’un: suatu perjalanan non-linier, perjalanan melingkar, perjalanan siklikal, perjalanan yang “menuju” dan “kembali”-nya sejarah,” kata Emha.

Sedangkan (berpakaian) ihram adalah “pelecehan” habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu: status sosial, gengsi, pangkat, pemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia, kemegahan itu tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

Sebagai antropolog cum mubaligh kritis, Kang Moeslim jelas gerah dengan praktik berhaji kelas menengah. Karena itu sambil memandu ia sekaligus menginjeksikan nalar kritis ke para jama’ah. Lewat konsep Islam transformatif dan “teologi kalibokong” yang disusunnya, Kang Moeslim sering berseru bahwa substansi utama wukuf di Arafah adalah meresapi khutbah terakhir Nabi Muhammad dalam hajj al- wada’ (haji perpisahan) beliau. Di mana dalam khutbah itu tercantum pesan kepada umat Islam untuk berkomitmen dan memberi pengakuan atas prinsip kemanusiaan universal. Jika jama’ah haji sukses meresapi nilai utama khutbah Nabi, niscaya mereka berfikir tidak harus kembali ke Mekkah untuk dekat dengan Tuhan. Melainkan dengan menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim seperti perintah surah Al-Ma’un. Apalagi berhaji hanya untuk mencari gengsi dan status sosial.

 

*Artikel ini dimuat di KORAN TEMPO, 14 September 2014

https://koran.tempo.co/read/351798/haji-turistik

Tinggalkan Balasan