Buku-Buku yang Melampaui Zaman

EMHA AINUN NADJIB (Cak Nun) dalam pengantarnya untuk penerbitan ulang bukunya yang berjudul Indonesia Bagian Dari Desa Saya (2013) mengungkapkan kegembiraan dan kesedihannya. Gembira karena setelah rilis pertama kali tahun 1983, muatan tulisan-tulisan dalam buku tersebut disimpulkan tetap relevan sehingga layak diterbitkan ulang. Sedangkan bersedih karena “zaman edan” yang digambarkan buku itu tiga dekade silam ternyata tidak hanya masih berlangsung hingga saat ini, melainkan juga bertambah parah dan mencapai sejumlah puncak-puncak kegilaannya. “Kalau dulu zaman edan ini kita jalani dengan berhasil bikin kepala pusing, tampaknya hari ini zaman edan itu kita jalani dengan kepala kita hampir pecah,” kata Cak Nun.

Tanpa susah-susah merevisi konten maupun konteksnya, buku tersebut memang tidak kehilangan relevansinya. Di sinilah kualitas Cak Nun sebagai intelektual cum budayawan visioner menemukan pembuktiannya. Bahkan di salah satu tulisan yang berjudul “Kecenderungan Verbal”, Cak Nun sudah menggunakan istilah “narsis” jauh sebelum terminologi itu menjadi “nomenklatur kodian” yang berserakan di media pergaulan anak muda dewasa ini.

Indonesia Bagian Dari Desa Saya menjadi salah satu contoh, tatkala sebuah buku ditulis dengan kebeningan akal-budi, kejernihan nalar dan ketulusan hati, niscaya ia akan menjadi mata batin bagi setiap babakan zaman. Bahkan terkadang “keabadian” buku (karya tulis) tersebut jauh melampaui zaman di mana buku itu diproduksi.

Salah satu contoh par exellence tentang hikayat “keabadian” buku adalah novel Les Miserables karya Victor Hugo. Bagaimana tidak dikatakan abadi jika narasi tentang ketidakadilan dan kemiskinan sebagai akibat dari pejabat yang korup atau disfungsinya negara masih nikmat kita baca walaupun Hugo menulis novel itu pada abad ke-19. Meskipun telah diadaptasi dalam beragam bentuk pertunjukan (visualisasi) selama bertahun-tahun, toh Novel yang aslinya setebal 1.400 halaman tersebut masih terasa memikat ketika diterjemahkan Tom Hooper menjadi film drama musikal “Les Miserables” (2013): film yang sukses mengantarkan Anne Hathaway menyabet Oscar 2013.

***

Setali tiga uang, ketika terjadi insiden pemukulan pramugari Sriwijaya Air oleh Kepala BKPMD Provinsi Bangka-Belitung Zakaria Umar Hadi beberapa waktu lalu, saya seketika teringat pada (setidaknya) dua buku sebagai tetenger zaman. Mengingat akar masalahnya adalah keengganan mematikan handphone meski pesawat sudah bersiap take off, maka kasus tersebut bukan sekedar cerminan arogansi pejabat negara, melainkan juga potret belum tuntasnya transformasi kultural bangsa ini dalam menghadapi industrialisasi dan teknologisasi.

Sebagai bangsa yang telat memulai fase industrialisasi-modernisasi, pesawat terbang dan handphone adalah “barang asing” yang tidak lahir dari “rahim industri” Ibu Pertiwi. Maka, selalu dibutuhkan proses adaptasi untuk melakukan transformasi mentalitas guna menyambut segala sesuatu yang baru dan relatif asing dalam keseharian kita sebelumnya. Namun seringkali proses transformasi mentalitas itu terhambat atau gagal sama sekali. Sebagai “bangsa konsumtif” kerap kali kita hanya menikmati produk teknologi hanya dari sisi kulitnya saja, tanpa menyerap isi dan substansi bagaimana teknologi itu semestinya dimanfaatkan. Jika di Eropa dan Amerika tranformasi  teknologisasi diikuti transformasi (modernisasi) sistem kognitif dan sistem kultural, maka di negara pengkonsumsi teknologi seperti Indonesia, kehadiran modernisasi hanya diterima dalam wujud materialnya saja (seperti televisi, komputer, handphone), tanpa memodernkan sistem pemikiran dan mentalitas.

Keresahan itulah yang jauh-jauh hari disuarakan oleh Koetjaraningrat dalam bukunya, “Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan” (1974). Koetjaraningrat memperingatkan orientasi pembangunan dengan aksen utama pada sektor ekonomi harus diimbangi dengan pembangunan mentalitas. Sebab pembangunan yang berorientasi pada kemajuan ekonomi mensicayakan terbukanya kran industrialisasi dan turut melipatgandakan barang-barang konsumsi sampai derajat yang belum pernah dikenal dalam masa-masa sebelumnya. Gegap gempita munculnya produk-produk modern saat itu dikhawatirkan Koentjaraningrat menimbulkan efek destruktif jika tidak dibarengi penguatan aspek mentalitas kultural.

Kemudian di tahun 1987, muncul satu lagi buku serupa dengan judul “Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan” yang ditulis Ignas Kleden. Waktu itu Kleden resah dengan peristiwa booming kepemilikan televisi yang menjangkau hingga pelosok perdesaan yang dianggap Kleden punya efek sosiologis. Yakni menggerogoti kualitas kolektivitas masyarakat desa karena televisi membuat penduduk lebih suka menikmati hiburan sendirian di rumah sehingga memicu individualisme. Maka Kleden mengatakan, peradaban baru yang ditawarkan modernisasi-teknologi waktu itu harus juga disertai konstruksi pengetahuan baru dan informasi baru yang berujung pada reorientasi formasi kekuatan transformasi sistem kognitif orang-orang yang menerimanya.

Dari dua buku yang populer dalam literatur studi sosial-kebudayaan itu kita memperoleh gambaran bahwa kegelisahan atas hadirnya teknologi baru dalam kaitannya dengan struktur mentalitas kultural sudah disuarakan lebih dari tiga dekade lalu. Jika sampai sekarang gambarannya masih serupa, maka kondisi ini menjadi bukti bahwa kita mengalami stagnasi (bahkan kemunduran) transformasi mentalitas kultural.

***

Dalam tulisannya, “Membaca dan Menulis: Sebuah Pengayaan Eksistensial” yang termuat di monograf “Buku Dalam Indonesia Baru” (1999), Karlina Leksono menyebut buku adalah akumulasi dari transformasi fiksasi bahasa tutur menjadi bahasa tulis. Artinya, sebenarnya tidak kurang orang yang bisa dengan jernih menganalisa gejala zaman sehingga relevansinya tak gampang lekang dengan waktu seperti yang dicontohkan para penulis buku-buku di atas. Namun kecemerlangan tersebut justru bertabrakan dengan keabadian ruang-waktu itu sendiri apabila hasil olah akal-budi (produk analisisnya) tidak pernah terpadatkan dalam tulisan (dibukukan/diarsipkan). Penyebabnya memori manusia punya keterbatasan. Bandingkan dengan imortalitas bahasa tulis sebagaimana dituturkan Pramoedya Ananta Toer, “jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan.”

Maka dari itu, tidak berlebihan kiranya buku dimasukkan sebagai variabel indikasi gejala zaman. Artinya perubahan zaman tidak melulu dinilai dari pergeseran tren mode, musik, film, atau sistem sosial-ekonomi-politik. Karena jika kita ingin mengetahui potret sebuah era, carilah buku-buku lama. Apabila “jantung” dari buku-buku itu masih berdenyut, niscaya zaman belum benar-benar berubah. Ia hanya berganti bungkus, tapi isinya masih serupa.

 

*Artikel ini dimuat di JAWA POS, 01 September 2013

Tinggalkan Balasan